CAHAYA DI BUKIT TURGO - MediaRakyat19. com

Breaking

Senin, 18 Desember 2017

CAHAYA DI BUKIT TURGO

bukit turgo
Bukit Turgo Dilihat Dari Gardu Pandang Kaliurang

Sleman (Mediarakyat.co.id) - Panorama alam perbukitan memaparkan nyata keagungan Tuhan. Udara yang sejuk memanjakan pendaki untuk berlama-lama di atas bukit. Tiap pasang mata disuguhkan pesona sekeliling. Sudut demi sudut memandang berbagai keindahan terbentang bebas. Itulah andalan Bukit Turgo di Kabupaten Sleman Provinsi Yogyakarta yang menjadi kawasan wisata alam sekaligus religi. Meski medan yang dilalui cukup curam, terjal serta mistis, banyak pengunjung lokal maupun mancanegara dan pendaki yang mendaki bukit saat musim liburan maupun di hari-hari biasa.

Para pendaki biasanya mendaki bukit pada malam hari agar dapat menikmati romansa malam bersama rekan-rekanya. Biasanya mereka mempersiapkan bekal air yang cukup, makanan yang dapat dimasak seperti mi instan dan bubur instan, korek serta bensin. Mereka juga membawa peralatan umum yang dapat digunakan untuk apa saja.

Gua Turgo
Gua Turgo yang Biasanya Digunakan Untuk Berlindung dan Tidur


Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk dapat mencapai puncak, oleh itu biasanya pendaki singgah di badan bukit saat proses pendakian agar dapat beristirahat dan menghangatkan badan dengan membuat perapian. Saat cuaca bagus, pendaki dapat tidur di alam terbuka. Sambil berbaring, dapat melihat hamparan bintang yang berkelip. Bintang itu membentuk berbagai bentuk dengan cahayanya yang cantik. Seakan bermimpi, bintang itu terlihat berjalan seperti lalu lalang kendaraan. Namun, Saat cuaca tidak mendukung pendaki dapat singgah dalam goa di badan bukit ini. 

Begitu subuh menjelang, pendaki memulai kembali pendakian ke puncak bukit agar dapat berziarah dan menikmati matahari terbit. Luar biasa suasana pagi yang menyambut ramah. Seakan kami disodorkan sinar mentari untuk berjabat tangan dengan mesra menikmati tempat wisata yang unik dengan segudang cerita-cerita gaib yang dipercaya warga setempat.

diatas bukit turgo
Makam Syeh Jumadil Kubro


Puncak Bukit Turgo sendiri bukanlah hamparan rumput dan tumbuhan. Di sini terdapat sebuah makam Syeh Jumadil Kubro. Konon sangat di hormati. Ia dimakamkan di atas bukit setinggi 1000 mpdl dengan dipapah para pengikutnya. Tak terbayangkan betapa luar biasanya. Tidak hanya para peziarah, pemburu pemandangan, dan penikmat alam saja, namun juga orang-orang yang mempercayai kekuatan lain untuk mencari berkah akan mendatangi tempat ini.


Pencapaian puncak Turgo tidak dapat dilalui dengan kendaraan apapun. Sampai di penghujung aspal Desa Turgo, perjalalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak. Tidak seperti objek wisata lainnya, disini tidak dapat dijumpai pedagang. Hanya ada sebuah pos pantau yang selalu mengabarkan cuaca sebelum para pendaki naik dan sekotak halaman parkir. Tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk dapat menikmati wisata Turgo, hanya dengan memberi sebuah infak seiklasnya, kendaraan sudah dapat parkir dengan nyaman. (NMD)